Jumat, 08 Juni 2012

S.O.S part 1

#12 Februari 2008
Pagi itu semua warna terlihat. Merah, kuning, hijau, biru, dan aku sendiri membawa warna putih. Disinilah tempat aku berada sampai sekarang. Mencoba untuk menjadi yang terbaik, terbaik, dan yang terbaik dalam kehidupan setiap insan di muka bumi ini. Aku berdiri di tempat itu, aku pikir hal itu sangat keren sekali. Dan sampai sekarang aku masih memikirkan hal yang sama seperti kala itu, 12 Februari 2008. Tempat dimana orang tidak akan tau aku ini siapa dan akan menjadi apa.
“Aryana Cosmitia.” Kata sang ketua yang bernama Bernard saat itu. Kemudian aku menjawabnya.
“Hadir!” Tentu saja aku menjawab panggilannya dengan lantang saat dia mulai mengabsen mahasiswa baru. Bagiku ini seperti kehidupan dalam serial action, dimana pemeran wanitanya memerankan karakter yang pintar dan menggoda. Menggoda? Mungkin kata itu bisa dibuang untuk wanita sepertiku ini. Hahaha. Karena kata menarik saja jauh dari apa yang ada dalam diriku.
12 Februari 2008 saat itu, aku tau aku akan menjadi wanita seperti apa.
Dan semua warna itu akhirnya terbang, terbang kelangit tertinggi dan menghilang untuk selamanya. Tidak ada yang tau warna-warna itu turun ke belahan dunia bagian mana. Yang pasti aku tau dimana keinginanku saat itu. Warna yang kutinggalkan saat itu, aku tau akulah yang memilikinya.
“Apa yang kau lihat dari balon-balon itu Ar?” tanya Tery sahabat terbaikku dari sekolah menengah atas. Dulu aku menemukannya di belahan dunia yang sangat sempit. Haha, bercanda. Aku bertemu dengan dia saat dia sedang berkelahi di belakang kantin sekolah. Dia sangat hebat berkelahi walaupun seorang wanita. Aku menyukai gerakan-gerakannya, seperti dalam film The Raid yang kulihat beberapa akhir pekan kemarin. Dan itu sangat cool, setelah itu kami berteman karena dia sebenarnya yang menyelamatkanku dari pria-pria kurang ajar tukang menggoda wanita.
“Ah, aku hanya melihat balon-balon itu seperti mimpiku yang akan terwujud Ter.” Lalu aku tersenyum setelah melihat balon yang kupanggil warna itu menghilang di samudera langit yang sangat luas tak berujung.
“Kau terlalu banyak berkhayal Ar.” Katanya sambil sesekali melihat langit kemudian kembali kepandangan para senior yang melakukan apel pagi itu.
***
Aku tak tau setelah itu tanggal berapa, yang kuingat saat itu adalah tubuhku penuh dengan lumpur. Aku berada di sebuah arena, dimana semua yang nampak adalah seperti medan perang. Aku, tidak tidak! Maksudku, kami. Karena saat itu teman-teman baruku mengalami hal yang sama yaitu ospek yang begitu seru menurutku. Hari itu hari terakhir kami menjalankan ospek. Dan menurutku itu adalah hari pertama dimana aku akan tumbuh dewasa. Hmm,,,seperti itulah yang kuingat saat itu.
Siang hari setelah kami mencoba untuk turun dari gunung dengan seutas tali, aku menemukannya. Aku menemukan seorang pangeran dimana jantungmu merasa seakan-akan berhenti berdetak. Yep, aku merasakan juga hal itu. Tapi mengapa aku bertemu dengan pangeran itu dalam tubuhku yang bau dan kotor? Hah, aku ingin mati saja saat itu. Aku hanya bisa berkata ia saja saat dia bertanya dengan mulutnya yang begitu manis seperti permen.
“Apa kau masih menyimpan minuman?” tanyanya kepadaku.
“Ya.” Dan aku memberikannya, kemudian segera mengalihkan pandanganku ke depan. Karena saat itu sepertinya aku mengalami gagal jantung yang akut. Akupun tidak dapat bernafas dengan benar. Semua aliran darah ini sepertinya berhenti. Dan aku takut, aku takut hilang kesadaran dan akhirnya mati sebelum keinginan ini tercapai.
“Terima kasih.” Katanya sambil tersenyum, kemudian dia meminum air yang kuberikan padanya. “Brilliant, panggil aku Brilliant. Sebenarnya namaku Ardbrilliant Leonard.” Katanya sambil menjulurkan tangannya untuk berjawab tangan denganku. Dan aku sungguh tidak percaya bahwa dia mengenalkan namanya sendiri tanpa kuminta. Sungguh mengesankan, dan aku tidak lupa bahwa badanku kotor dan bau. Aku sungguh tidak percaya diri meskipun semuanya saat itu sama sepertiku. Bau dan kotor, dan aku berani bertaruh tubuhnya juga sama sepertiku. Hanya saja, aku pikir aku akan bertemu dengan pangeran ini dengan suasana romantis dan penuh dengan wangi bunga disana sini. Namun hal itu sungguhlah keadaan yang berbeda 180 derajat. Sungguh diluar dugaan.
Namun itulah cerita favoritku dihari itu. Hari dimana aku bertemu seseorang yang tampan, keren, ramah, dan pintar. Ardbrilliant Leonard, dan aku memanggilnya Brilliant sesuai dengan apa yang dia inginkan.
***
# 20 mei 2008
Aku masih di semester awal. Ini adalah ujian pertamaku. Disini semua begitu cepat. Sesekali aku melupakan pangeran pujaanku Brilliant meskipun dia duduk disebelahku, dan dia begitu seksi ketika dia sedang bercerita tentang pengalamannya menerobos satu kasus ke kasus yang lain. Yep, kami seperti detektif Q. Namun tepatnya mata-mata yang mencari kebenaran dari kasus yang tidak dapat dipecahkan. Brilliant sungguh bukan namanya saja yang pintar, tapi otaknya pun seperti itu. Dia sangat pintar, tak ada kasus yang tak terpecahkan. Semua begitu mudah baginya. Sepertinya dia hanya bodoh dalam satu kasus saja. Cinta. Dia tak dapat memecahkannya. Termasuk aku, aku tak dapat memecahkan mengapa dia tak dapat merasakan hatiku ini. Dan akhirnya aku sedikit melupakan rasa itu dengan banyaknya ujian-ujian di semester ini.
Sekolah ini begitu berbeda, aku tak sempat terpikir dibeberapa tahun terakhir untuk sekolah di tempat seperti ini. Bahkan sejujurnya aku tak tau di dunia ini ada sekolah semacam ini. Aku ulangi semuanya begitu cepat. Empat bulan ini aku harus menyelesaikan 10 kasus tak terpecahkan. Otakku benar-benar diperas. Awalnya semua ini begitu sulit, namun lama-lama aku haus. Aku haus akan kasus seperti yang ada di serial komik conan. Aku menyukai komik itu. Entahlah, aku sepertinya kekanak-kanakan tetang hobiku yang satu ini, yaitu membaca komik. Dan di kasus terakhir ini adalah ujian akhir semesterku. Jika aku tidak menyelesaikannya, aku akan tinggal di semester ini dan tidak bisa melanjutkan semester selanjutnya. Itu berarti aku tak dapat bertemu dengan Brilliant dalam kelas yang sama. Hah,,,itu memuakkan. Jujur saja, meskipun otak ini ingin menghindar darinya, tetap saja hati ini selalu rindu melihat senyumnya yang begitu menggoda.
“Ar, apa yang kau pikirkan?” tanya Brilliant yang sadar aku sedang melamun.
“Hm,,,tidak. Aku hanya sedikit lelah.” Kataku berdalih. Aku tidak ingin kalau dia tau aku sedang memikirkannya. Tapi aku yakin, dia tidak akan sadar. Karena dia begitu bodoh dalam hal ini. Bayangkan saja, sebenarnya yang menyukai dia bukan hanya aku saja. Hampir semua wanita di kelas ini menyukai dia. Kecuali sahabatku Tery. Jadi kalau dihitung-hitung ada 9 orang yang menyukainya  termasuk aku. Secara matematis, 90% wanita di kelas ini menyukainya. Wow itu angka yang hampir sempurna. Tentu saja 90%, karena wanita dikelas kami ada 10 orang, sisanya ada 15 pria dan 1 orang  tak dapat kami ketahui. Aku pikir dia bergender laki-laki karena dagunya sedikit memiliki sudut. Namun Brilliant tetap dengan argumennya, menurutnya dia wanita. Hah, itu adalah hal yang sangat konyol menurutku. Atau dia sedang mencoba menggodaku. I wish.
“Sepertinya kau berbohong.” Katanya lagi mencoba membaca pikiranku.
“So tau.” Kataku sambil senyum dan menunduk mencoba untuk membaca kasus terakhir yang kucoba untuk kuselesaikan.
“Dasar kau ini. Lucu sekali.” Katanya sambil mengelus kepalaku. Oh my god. Semuanya seperti berhenti. Aku ingin dia mengulangnya sekali lagi, untuk hari ini tentunya. Dan aku harap akan terulang lagi dihari yang lain. Tapi aku hanya bisa diam. Dia selalu ramah pada wanita lain. Itu yang membuatku tidak merasa bahwa dia memiliki perasaan yang sama terhadapku.
***
# Desember 2009
Setelah itu aku tak bertemu dengannya lagi. Setidaknya untuk beberapa pekan. 3 semester. Dia menghilang. Dan aku begitu terkejut, setelah 3 semester menghilang dia kembali lagi. Dia duduk di semester yang sama denganku. Bagaimana bisa? Aku benar-benar heran. Otaknya terbuat dari apa? Sungguh mengesankan. Pikiran ini begitu menggangguku di hari pertama aku bertemun dia kembali.
“Sudah lama tidak bertemu ya.” Kata pertama yang dia ucapkan kepadaku. Dan aku tak dapat mengatakan apa-apa selain tersenyum dan aku tak ingin memandangnya saat itu. Sungguh aku tak pintar berkata-kata kecuali hanya dalam khayalanku saja seperti saat ini. “Apa kau tidak rindu padaku?” tanya dia masih memandangku saat kelas sunyi. Aku hanya menggigit bibirku yang kelu. “Ayolah katakan sesuatu Ar!” pintanya lagi.
“Ini sedang kuliah Brilliant.” Hanya itu yang kukatakan padanya. dan akhirnya dia terdiam.
Singkat sekali. Aku menghindarinya sepanjang hari itu. Bagaimana tidak. Aku begitu heran kenapa dia mengajakku berbicara terus, sedangkan aku tak mampu berkata bahwa sesugguhnya aku sangat rindu padanya.
Semua ini begitu berat, tak seberat kasus pembunuhan berantai yang terjadi akhir tahun ini yang akhirnya aku pecahkan beberapa hari yang lalu. Ini begitu sulit untukku. Aku tak dapat membereskan hati ini. Inginku pergi saja seperti warna putih yang kulepas saat pertama kali penerimaan mahasiswa baru.
Keesokan harinya, dia menghilang kembali, entah kemana. Aku begitu merindukannya. Dan aku adalah makhluk terbodoh saat itu.
***
Kalau dipikir-pikir sepertinya aku adalah pemeran Ran pada serial komik Detectif Conan, dan Brilliantlah yang menjadi Shinichi Kudo nya. Aku begitu terluka karena ini. Dia tidak pernah tau perasaanku yang sebenarnya seperti apa. Dan aku begitu bodoh, karena telah membuang kesempatan berbicara dengannya akhir tahun lalu. Kini aku telah resmi menjadi alumni SOS. Sekolah yang tidak tau dibelahan mana, karena kami pantang untuk membicarakannya. Dan kepanjangan dari SOS itu juga aku tak tau, karena kami pantang mengingat namanya.
Aku lulus dengan peringkat tertinggi dan 1 tahun lebih cepat dari dugaan. Aku menyelesaikannya begitu mudah. Yep, begitu mudah dalam hidupku. Seperti yang dikatakan Mr. RC. Dia memberikanku pena aneh. Pena yang tidak pernah berhenti memberikan cahayanya saat aku merasa otakku akan berhenti. Pena ini seperti magic untukku. Saat aku memandangnya, maka semua penat dalam diri menghilang. Semuanya begitu mudah lagi saat aku menyelesaikan beberapa kasus yang sangat sulit menurutku. Dan lagi-lagi 1 kasus yang tak dapat kuselesaikan tetap berdiam diri seperti bom waktu. Brilliant, aku mengingatnya kembali. Dia seperti phantom, aku tak dapat menemukannya. Bahkan dalam data yang kucoba terobos di SOS. Dia menghilang, seperti tidak ada Brilliant yang kukenal di dunia ini. Dia sepertinya memang khayalanku saja.
Akhirnya aku pergi jauh. Berkeliling dunia untuk bercinta dengan kasus-kasus yang sangat manis di berbagai dunia. Semuanya cepat, mulai dari rambut pendek ke panjang ke pendek lagi dan ke panjang lagi.
Akhirnya aku lupa sekarang tahun berapa.
***
#8 Juni 2012
Dalam setiap memori yang banyak ini. Semua terangkum menjadi satu. Satu hal yang membuatku terkesan. Aku sepertinya diam dalam satu dimensi, dimana waktu tak berarti untukku. Sekarang aku hidup di tahun yang serba gemerlap. Dunia nyata. Dan hatiku masih di masa yang lampau.  Dimana dia berada, sesekali dalam tahun ini aku mencoba tidak tidur hanya untuk melacak keberadaannya. Hah, hidupku ini benar-benar menyedihkan dalam kecemerlangan yang kupunya. Namun sekali lagi aku berkata, aku bukanlah wanita yang menggoda. Terbukti bahwa tidak ada pria yang mau mendekatiku. Betapa menyedihkannya aku ini kan.
“Sepertinya kau sedang berjalan-jalan dengan khayalanmu lagi Ar.” Kata suara wanita dibelakangku.
Aku tersenyum dan tak mampu berkata apa-apa. Kupeluk wanita yang tetap tomboy dan jago berkelahi ini dengan pakaian nya yang terlihat rapi saat ini lalu memandangnya sesaat melepas kerinduanku terhadap sahabatku ini.”Bagaimana kabarmu?” tanyaku.
“Baik. Kamu?”tanyanya.
“Seperti inilah aku..”
“Tetap tak banyak bicara. Aku pikir kau akan menjadi wanita pesolek yang muncul di tv untuk menutupi siapa dirimu sebenarnya. Ternyata bukan seperti itu.”
“Sayang sekali, aku tak sesuai dengan keinginanmu.” Kataku sambil tersenyum, lalu kami berjalan mengitari taman kampus SOS ini. “Bagaimana rasanya jadi presenter tv? Kau begitu mengesankan dalam layar kaca. Aku menginginkan tanda tanganmu untuk sepupuku yang sedang hamil, karena dia sangat mengagumimu.” Kataku  masih berjalan bersamanya di taman itu menuju ruang rapat. Hari ini ada rapat besar-besaran untuk menyelesaikan kasus presiden di negara eropa sana.
“Tidak begitu buruk, aku menutupi keberadaanku dengan menjadi presenter dan semunya seperti dalam novel-novel. Kau tau, aku mendapat banyak jabatan tangan dan bunga-bunga. Kemudian aku mendapat flu, karena sebenarnya aku alergi bunga. Hahaha. Itu sangat konyol sekali, dan setelahnya aku tak mendapat bunga lagi. Karena mereka cepat menyebarkan informasi yang sebenarnya tidak kusukai. Kemudian di kesempatan berikutnya aku mendapat banyak kado sebagai pengganti bunga.” Katanya kemudian menceritakan cerita-cerita yang lainnya dan akhirnya kita tertawa bersama. “Lalu bagaimana dengan pekerjaan barumu itu. Kau bekerja sebagai dokter bedahkan? Kau sangat mengesankan, selain seorang phantom, kau menjadi dokter yang hebat.”
“Yah,,,pekerjaanku biasa-biasa. Hampir tiap hari disibukkan dengan berbagai macam penyakit. Untungnya aku masih bisa membagi waktuku dengan pekerjaan asliku ini.” Kataku berkata pendek.
“Lalu bagaimana dengan Brilliant? Apa kau mendapat kabar?” tanya dia. Aku benar-benar tersentak. Aku tak dapat berkata apa-apa lagi, akhirnya aku terdiam. “Aku mengerti, kau kehilangan informasi tentangnya. Apa kau tahu, beberapa waktu yang lalu sempat ada kabar tentangnya.”
“Apa?” tanyaku kepadanya dengan perasaan yang sangat ingin tahu.
“Kabarnya dia sedang menyelesaikan kasus di Amerika tentang hilangnya para ilmuwan-ilmuwan disana. Namun setelah kutanyakan pada temanku yang sedang menyelesaikan kasus yang sama. Ternyata tidak ada nama Brilliant disana. Akupun tidak mengerti, semua kabar burung itu sepertinya hanya gosip saja. Memangnya kau tidak mendapat kabar itu? Hm....sungguh aneh sekali.” Katanya.
“Aku tidak mendengar kabar itu Ter. Apa aku boleh tau, kau mendapat kabar itu dari siapa?” tanyaku penasaran.
“Aku mendapatkan nya dari email yang tak dapat kukenal. Dia mengatakan informasi itu. Ini aku perlihatkan kepadamu.” Kemudian dia mengeluarkan tabletnya kehadapanku. Dan betapa terkejutnya aku, pengirim itu berinisial AL.
“AL? Apa itu berarti Ardbrillinat Leonard?” tanyaku kepadanya.
“Aku pikir begitu juga Ar, tetapi aku kesulitan melayaknya. Menurutmu kenapa orang ini mengirimkannya kepadaku? Seingatku aku jarang sekali berbicara dengannya.” Katanya bertanya kepadaku.
“Akupun tidak tahu Ter.” Kemudian aku memberikan tabletnya kembali. Dan kami meneruskan perjalanan menuju aula besar.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

comment duunngg!!!!